PESAN KULTURAL DARI GUNUNG WENANG

Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang kurang ingat lagi di mana letaknya lokasi bernama “Gunung Wenang” itu. Sampai awal dekade 1990-an, tempat itu amat terkenal karena di puncaknya bertengger Rumah Sakit Umum milik Pemda Sulut. RSUD Gunung Wenang. Dulunya, rumah sakit sejak masa kolonial ini bernama “Het Koningin Wilhelmina Ziekenhuis” yang diresmikan pada tahun 1936. Dalam alam kemerdekaan, “RSUD Gunung Wenang” ini dipindah ke Malalayang lalu berganti nama menjadi “RSU Prof.Dr. R.D. Kandou” sampai sekarang. Setelah lama terlantar menjadi seakan “rumah hantu”, pada lokasi itu kemudian didirikan sebuah hotel mewah: Sintesa Peninsula Hotel. Cukup menggembirakan karena hotel bintang lima ini tetap mengabadikan “Gunung Wenang” sebagai alamatnya: Jln Jend. Sudirman, Gunung Wenang, Manado 95123, Telp.0431-855008 Fax 0431-855101 < http://www.sintesapeninsula.com >. Dari lantai 11 hotel itulah pesan kultural ini berasal.
Hari Rabu, 10 Oktober 2012. Saya diminta hadir sebagai undangan terbatas dalam acara “Sosialisasi UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman”. Saya diundang langsung oleh Kepala Lembaga Sensor Film (LSF) DR Muchlis Paeni dalam kapasitas saya sebagai Ketua organisasi profesi Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sulawesi Utara. Ada diskusi panel yang disiarkan online oleh sebuah stasiun televisi “BhinnekaTV” dengan pembicara tiga orang: pak Muchlis, pak Febry, dan pak Alex. Ternyata tidak hanya sekedar sosialisasi namun ingin mengetahui lebih jauh sikap masyarakat kota Manado pada khususnya dan warga Sulawesi Utara pada umumnya terhadap film dengan latar sejarah, latar budaya, latar sosial, latar pendidikan, latar ekonomi di daerah ini.
Beberapa pokok pikiran yang saya sampaikan dalam acara tersebut, dilengkapi lagi dengan berbagai pokok pikiran lainnya yang berkembang kemudian. Dulu ada aturan batas umur yang amat ditaati pengelola bioskop dan masyarakat penonton. Warga juga tidak terbiasa antri sambil berdesak-desakan hanya untuk memperoleh tiket/karcis masuk. Mereka pergi dengan pakaian rapi dari rumah, seakan hendak menghadiri pesta atau hajatan tertentu. Semua anak sekolah diberikan mata pelajaran budi pekerti. Hampir semua pengusaha bioskop membuka loket untuk dua bahkan tiga kali main sejak sore sampai malam. Kalau ada orang dewasa yang membawa anak di bawah umur, anak itu tidak boleh masuk dan dititipkan kepada penjaga pintu keluar sehingga dapat bergabung lagi dengan orang tua yang sebentar akan keluar melalui pintu itu.
Sekarang, ke mana larinya tertib jajar sipil (civil society) yang menjamin kenyamanan itu? Tidak sedikit anak yang “lolos” dari pengawasan orang tua karena lebih bebas menonton, awalnya sembunyi-sembunyi mulai dari kamar tidur, ruang tonton, rumah teman bahkan di ruang publik. Film-film sekarang sepertinya tega menanggalkan nilai pendidikan budi pekerti, nilai moral, serta nilai sosial yang diakui bersama.
Sirnanya muatan budi pekerti dari kurikulum pendidikan dan termarginalnya esensi moral dari berbagai konten film nasional inilah yang mungkin bertanggung jawab terhadap merebaknya tawuran anak-anak sekolah sampai kakak-kakak mahasiswa mereka di mana-mana, yang melebar sampai tawuran antardesa di berbagai pelosok tanah air. Nasihat orang tua di rumah dan tuntunan para pemimpin berbagai golongan agama tidak mempan lagi yang terbukti dengan gagalnya berbagai upaya pencegahan dan penangkalan yang diupayakan aparat di lapangan. Kalau begitu, apa yang pernah diutarakan oleh sosilog Peter Berger bahwa usaha bisnis adalah suatu dunia yang sudah dibebaskan dari agama, dapat digunakan pula untuk mencermati fenomena meresahkan yang melanda anak-anak muda waris masa depan bangsa. Kita ternyata belum cerdas menggunakan hard power dan soft power yang tersedia dalam merancang dan menerapkan rekayasa sosial berlatar nilai-nilai budaya guna membentuk generasi anak bangsa yang bermartabat dan berkepribadian luhur untuk melanjutkan tugas historis kultural ke masa depan.
Tidak ada upaya yang serius, sistematis, terencana, terpadu, dan berkelanjutan dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan secara kreatif nilai-nilai sosial dan kultural yang bersumber dari dalam kebudayaan kita. Banyak nilai budaya yang tangible dan yang intangible yang dibiarkan mengonggok tak tersentuh otak-otak yang kabarnya kreatif dari para produser dan sutradara kita. Jika mereka mau bertingkah kreatif sedikit saja dengan memasukkan nilai-nilai pendidikan budi pekerti dan moral dalam produk film manapun dan berpadu dengan pesan-pesan orisinel yang ingin mereka sampaikan melalui karya sinematis dan lalu mempertahankannya karena hal itu diyakini mengusung keluhuran kepribadian bangsa maka jadilah sebuah karya sinematografis adiluhung yang pasti mengundang tepuk tangan dan decak kagum para penonton dan penikmat film bermutu, di kampung sendiri sampai di negeri orang.
Sulawesi Utara haruslah dianggap sebagai “hutan perawan” yang dapat memberikan kontribusi luar biasa dalam perfilman nasional. Sudah banyak artis dan aktor asal daerah ini yang berkiprah mulai dari film layar lebar sampai ke sinetron. Belum lagi yang mengisi dunia periklanan dan promosi. Seandainya ada pengusaha film yang matanya cukup tajam melirik potensi alam, budaya, sosial, dan SDM yang dimiliki Sulawesi Utara, pastilah hasilnya tidak akan mengecewakan usaha bisnisnya. Pokoknya, Sulawesi Utara memenuhi kriteria 5C yang saya kembangkan yakni (1) cultural resources, (2) coverage the values, (3) creativity, (4) contents, dan (5) comercialize, yang jika ditangani dengan baik akan berdampak multiple effects bagi kemaslahatan dunia perfilman, pendapatan daerah, dan kesejahteraan masyarakat.

Tondano, 15 Oktober 2012
Sejarawan/Budayawan,
Fendy E. W. Parengkuan

This entry was posted in Reflection and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s